Tuesday, May 7, 2013

ANTARA HUJAN, KENANGAN DAN CINTA..........

by Ellyssee Lavin (Notes) on Wednesday, April 21, 2010 at 10:47pm



Kudengar sayup... ribuan lebih butiran air jatuh di hujan yang kuyup
Suaranya biasa saja singgah ditelinga
Gemericik, dan terkadang sesekali mengecil dan kemudian berisik kasar kembali
Hawa dingin selimuti malam yang muram
Perangainya kian kelam tanpa kehadiran rembulan dan kilauan bintang - bintang
Sepi pun merayap menyelinapi dinding benak
Angan kian ramai meracaui hati yang mulai bernyanyi

Kali ini ingin kuisi malam dengan puisi - puisi kisah sunyi
Karena aku telah begitu lama jatuh cinta bermain rasa
Menabuh kembali suara hati dialam kenangan lama
Kusut masainya asyik kusisir dalam telaah damai
Kelam kusamnya kuulang belajar menata bijak dalam sadar
Masa lalu yang usang, kini terasa hidup dalam alunan irama rindu yang menyala redup
Tiada bekas selain kunamakan masa kecil dalam kelas
Bukan sisa jaman selain legenda yang sarat akan usungan pelajaran
Tiada yang pantas dilupakan seperti ausnya arti kenangan, hanya manisnya kau rasai dg senyuman, dan pahitnya kemudian kau buang dalam cibir kemunafikan
Sepertinya sengaja, kau benamkan luka lama, pedihnya kau kuburkan dengan nisan tak bernama
Kau lupakan pesan makna derita yang membekas diatas kerandanya

Seolah jengah kau akui dirimu telah alami kalah
Sepertinya engkau malu pada cermin lalu yang lekat menatapmu
Bahkan kau katakan tidak diujung bibir yg getir, sementara hatimu gumamkan iya dalam waktu yang sama

Suara hujan tak terdengar lagi, lamunanku seketika tersisa separuh rasa
Dahulu dan kini memacu hasrat diri tuk lebih jujur mengakui
Aku baru menyadari, apa yang kupelajari dari kenangan di usangnya diary, siapa yang pantas kujadikan saksi sejati akan catatan hidup dan essensi diri

Dahulu.., yang kemarin masih berserakan dipelataran batin
Masa lalu.., yang semalam kusimpan dan kubenamkan dalam dalam
Kini tergugah gigitan sunyi malam yang mencekam, kembalikan lembar2 serakan kenangan yg kini telah terangkum dalam buku bersampul terang
Kisah yang tertera indah terjalin dalam puisi dan cerita jiwa
Dari bait bait yang tersurat pahit, tak lagi terasa dan terbaca sakit
Setiap sirat dari syair syair yang bernyanyi getir, terlahir pasti kebekuan hati yang perlahan mencair
Lirik yang menarik, mendendangkan makna lagu rindu qalbu yang cantik

Kupisahkan antara hikmah dan risalah
Masa lalu tak selamanya pantas dijadikan sejarah bersalah
Betapa sesal tak sepatutnya larut buat jiwaku tersudut
Andai warnanya tersaput kelabu tebal kabut hidupku
Cerminnya telah jujur tulus menjadi guru pribadiku
Sebuah potret diri yang tak semestinya kurobek dalam benci
Namun garis dan warna nasib mampu buatku lebih mawas menelisik
Rasa yang dahulu ada tersisa betapa indah kujadikan pujangga
Perjalanan tetap mengalir dalam ritme dan irama yang sama
Hanya kesadaran yang menentukan keusaian riuhnya gundah gulana
Lupakan saja diary yang lama, andai telah kau serap habis makna ceritanya
Usah hiraukan sebaris petikan kisah sadis yang sempat buat sisi qalbumu pedih teriris
Karena waktumu mungkin saja hampir dekati batas habis
Buatlah pagar diri agar langkahmu kakimu tak jatuh tergelincir lagi

Diamlah dan kenang dirimu dalam senyap yang tenang
Hempaskan belenggu nafas berat yang sesakkah dadamu
Rasakan sepimu hampiri kesejukan arti merindu
Dekati nurani dan ajak dia mengupas kemelut merahnya hati
Karena warna sejatinya hanya suci yang paling murni
Sentuh jiwamu dalam jeritan terdalam
Rasakan cekam dari diam biarkan damai memelukmu sisihkan kegamangan
Biasakan rasa hampa hadirkan keutuhan jiwa berjumpa sang tunggalnya
Cinta dalam sadar, seperti hamparan taman kembang mawar
Hadirkan cita rasa pada dzikir seorang pemuja
Hasrati CintaNYA, hadapkan wajahmu kearah dimana sang Cinta
Ketika jiwa dahaga seteguk air jernih, tak ada lagi gunanya gula
Sejak kudengar tentang dunia Cinta
Kumanfaatkan hidupku, hatiku dan pandanganku di perjalananku
Aku pernah berfikir sebelumnya, bahwa Cinta dan yang dicinta itu berbeda
Kini aku mengerti bahwa keduanya sama

Indahnya menuliskan kisah berburu hikmah dari segala makna
Cerminku baru saja melahirkan wajah baru yang tak berbeda
Hanya sinar dan auranya terpantul berbeda warna dan cahaya
Setelah kelamnya kenangan hadir memberikan kesaktian wejangan
Kelabunya seketika menjadi maha guru bagiku
Kepahitannya biaskan manisnya sebuah tafakur rindu
Perihnya berganti rasa damai dalam asa yang pasti bahagiakan janji hati

Lebih dari sekedar puisi, ketika kian dalam sadar ini mematri hati
Aku tak semestinya lara dalam mencari CintaNYA
Aku tak pantas menangis saat KasihNYA mencurahiku tiada batas habis

Tiada niat didada tuk menjadi pujangga
Ketika hati tulus mencairkan beku dendam rindunya
Menggemakan harap dalam gaung dzikir dan do'a
Mengisi sunyi melalui diam dan sendiri menjamahi damai Kasih Illahi
Menghangatkan kesendirian dalam cengkrama pelukan sang Rahman
Menyemai pasrah, menuai berkah demi menenangkan lautan jiwaku yang gundah

Kekasih...
Balas rinduku dari rasaku yang terpedih
Jawab do'aku dengan Cinta yang tak pernah kujumpa

SUARA QALBU..........

by Ellyssee Lavin (Notes) on Saturday, April 17, 2010 at 1:21pm


Setiap saat ternyata kita senantiasa kurang memahami, sedikit sekali pemahaman untuk belajar sering menyadari "diri"

Betapa sepenuh waktu peperangan terjadi didalam relung qalbu

Dunia dalam tipu dayanya, fitrah manusia dg keterbatatasannya, membuat dan menciptakan romantika dan warna hidup manusia dalam gambar lukisan diatas kanvas nasib yang samar

Perhelatan luar biasa terjadi, bahkan terkadang diluar ambang batas nalar yang wajar, segalanya mengalir mewakili atas nama qada dan qadar

Apa yang sebetulnya kita kejar?
Ketika nafsu mengatas namakan hak yang berlandaskan kepada keinginan yang bernama "kepuasan"

Kesadaran tak lagi diusung sebagai perisai, hati tak lagi dijaga sebagai mutiara jiwa yang teramat istimewa dan terlalu biasa dibilang berharga, kenapa? Karena hati adalah nyawa sejati hidup manusia dg kesuciannya

Keberadaan raga yang menawan dan sekaligus hina menjijikan, hanya hati yang dapat menentukan rupanya dalam ucap dan perbuatan

Apa yang sudah kita lakukan untuk kelangsungan hakikat hidupnya hati dibalik raga yang tak berarti, sementara dunia mengancam singkatnya hidup tanpa limpahan materi dalam belenggu obsesi dan materi

Jujur...
Pengalaman jatuh bangun dalam perang hati, semata2 karena lalainya membaca buku diri yg Tuhan titipkan dalam raga, tubuh, alam, jiwa, batin dan wujud peristiwa lakon diri diatas dunia

Hikmah yang nyata hampir tak terbaca, karena lebih suka mengumbar kasat mata yg haus glamournya pesona maya, jerit merana kebatinan jiwa nyaris ditulikan seketika, betapa diri didustakan selamanya

Realita dan Hakikatnya tak lagi harmonis menyatu dalam lagu sadar sebenarnya, ketimpangan yang tak disadari seolah disengaja dalam kebutaan yang biasa dan terbiasa

Ketika kita dihadapkan pada kecewa, kepahitan, kehilangan, kesakitan, kesengsaraan dan kesorangan dalam derita, kita baru berlari tersungkur bersujud pada hakikat fitrah kita dan Pemiliknya...

Ketika tiada sesiapa lagi yg mau peduli melihat, mendengar, atau meminjamkan sejenak bahunya untuk kita bersandar, ketika tangisan, teriakan, jeritan dan rintihan pilu kita tiada sepasang telingapun yang sudi untuk sekedar mendengar, baru seketika kita merangkak meraih rangkulan sang sadar

Bahwa yang lalu segalanya terlalu tak benar, bahwa yang sudah sudah adalah semata lelah buah dari alfa, keliru, sombong, angkuh, salah, dan tak mau mengalah, demi nafsu yang menyetubuhi kesucian jiwa yg pasrah, demi ambisi yang menggagahi keluguan nurani, demi "puas" yang menelanjangi kemurnian hati

Tak lebih dari pepesan kosong yang kita songsong, kiranya kepuasan adalah kebanggaan dari dambaan yang sebenarnya bohong,

Ya, dimana batas puas yang kita kejar begitu buas, nilai apa yang kita capai sementara tak jua sampai hidup dalam sebenarnya damai, padahal jauh dalam batin, hakikat bahagia dijamin begitu luas tanpa batas rasa

Dunia hanya ajang sekolah bagi yang mau mengejar masa depan yg terjamin cemerlang, belajar dan belajar adalah hakikat cara menjaga kelangsungan hidup makhluk didalamnya

Dunia adalah alam awal yang memberi banyak ikhwal Cinta antara manusia dan Tuhan menjalani hidup yg sebenarnya adalah kematian (bagi orang2 yg mampu membaca hakikat kehidupan dan Ke-TUHAN-an)

Mulailah hidup diatas dan didalam baju kesadaran, atau hidup senantiasa sengsara dalam ketelanjangan

Lihatlah diri dalam mata yang hakiki, lepaskan pandangan biasa yang hanya mengenali ego diluar kemurnian nurani

Filosofi hanya sebuah ungkapan dari pemahaman yang tak bisa dirasai, tanpa realisasi perjalanan rohani yang murni

Kesadaran adalah hakikat rasa kendali, yang samar terasa tanpa minat ikhlas yang terkaji

Dahagakah kita atas nikmat dari bahagia yang abadi?
Tidakkah kita tergoda mencicipi Kasih Tuhan yang tak terhingga?
Hidupkan hati, suburkan batin, sucikan jiwa, basuhi qalbu dg Iman dan Taqwamu yg lebih hakiki lagi..
Cari hakikat, tunda realita sebentar saja, benahi DIRI dlm keCINTAAN yg sesungguhnya
Dunia kian renta, Jiwa kita semestinya lebih siap menerima, terlebih melewatinya

Lupakan dunia sekejap saja, telusuri keberadaan sadar sepenuhnya, ikuti rasa terperih selaksa Cinta hanya KepadaNYA, raih bahagia hidup yg sebenarnya hidup

Awali langkah hening dari yang terhening, mulai ikhlas mencari sadar yang sempat tersandar, temui jiwa dan mulailah ajak bicara, bawa hati dan raihlah nurani, ceritakan isi qalbumu, bahwa engkau hanya mencari dan mem "butuh"kan Tuhan-mu.....

PESAN SI MISKIN PAPA.....

by Ellyssee Lavin (Notes) on Monday, April 12, 2010 at 7:45am

Batinku melenguh saat haru menyentuh
Tanpa firasat apapun meski ak terjaga sblm subuh
Mentari pun tak gamang hadirkan merona dalam semburat terang
Seringai pagi ini tak buat janji tuk beriku sajian pilu

Mungkin kasih saja tak kan pernah cukup buktikan cinta
Realisasinya begitu butuhkan lebih dari sirat rasa yang ada
Aku mulai lemah dalam getar asa tanpa daya
Apa keterbatasanku menjadi luka atas seribu iba yang terpampang didepan muka
Ketulusan hanya sampai menghantar pada tepian kasihnya
Inginku bak tiada mampu sampaikan rindu pada sombongnya Semeru

Ya Rabb...
Pesan apa yang Kau ingin sampaikan padaku
Dalam lukisan muram di wajah pagi yang indah
Ironis, senyuman cakrawala kubalas dgn sendu gerimis
Maafkan aku mentari, aku malu menatapmu tanpa senyumanku

Mestinya aku tak larut dalam sandiwara dan lelucon badut
Betapa perannya hanya mampu ceritakan sebuah balada
Padahal seharusnya membuat senyum dan dunia terpesona

Ya Rabb...
Engkau tahu aku dan ke-papaanku
Namun hasratku menjulang melebihi asaku yang lebih dahulu terbang
Kini kenyataan buatku meracaui resahku
Andai aku bisa merubah nuansa drama yang ada
Kelemahanku makin kuat memaki dan mencaci hati
Menuntut dan menyalahkan segala simpati
Apa yang bisa kubuat dlm sebatas angan yg menggeliat
Aku hanya mampu melihat, melihat lalu perlahan trenyuh dan terisak
Dunia mampu buatku tersudut dalam melodramanya
Mencemoohku yang tak miliki kuasa sang raja

Ya Rabb...
Hukum aku dalam rasa terpilu, andai itu akan mengurangi rasa bersalahku
Atau pinjami aku sedikit KuasaMU
Agar aku mampu menyulap iba menjadi bahagia
Kepada wajah wajah terkasih yang tengah lara
Luluh lantak sudah hatiku meratapi diri
Tak mampu mataku menatap lebih lama lagi
Siratnya terlalu tajam melampaui nyeri yang merajam
Kemiskinan mereka seolah meraung dan meneriakiku, mengharap uluran dan berlindung
Aku tak tahan dalam keadaan yang menyakitkan
Betapa aku malu dengan pakaian bersih yg melekatiku
Betapa aku nampak hina berdiri dg sepatu berharga
Betapa aku risih melewati mereka yang kumuh masih, seketika ak merasa lain, sakit dan tersisih

Ya Rabb...
Syukurku terlalu masih angkuh
Ketika mereka mengajariku dalam arti rapuh
Aku masih tak berarti apa2 di dpn si miskin papa
Aku masih menjijikan dalam diam tanpa kuasa ulurkan tangan

Ya Rabb...
Beri mereka makanan nikmat yg lebih dari aku
Beri mereka tidur yang nyenyak tanpa gelisahku
Beri mereka tenang daripada tentramku
Beri mereka nyaman diatas kebaikanku
Beri mereka aman daripada selamatku
Beri mereka bahagia diatas sejahtera saya
Beri mereka sehat dari segala sentosanya
Beri mereka cukup daripada lelapku yg berselimut
Beri mereka manis daripada maduku
Beri mereka kaya diatas seribu rasa suka cita saya

Hanya itu hasrat dan ingin yang buatku terpuruk dalam tak berdaya
Dengar dan buatlah asaku untuk KAU jadikan nyata
Meski begitu buruk KAU menilainya dalam sebentuk do'a
Paling tidak, rasa mereka lebih "ada" daripada segala yang aku punya
Paling tidak biarlah yang kudapat tidak lebih dari bahagianya
Karena hamba hanya mampu katakan cinta dan rasa sejuta rasa
Itupun hanya terbias dari sinar mata dan tangisannya

Tersungkur aku dalam agung sujud tasyakur
Rebah batinku dalam wujud pasrah qolbu
Si miskin baru saja menjadi guru
Dan deritanya tak lebih sama dari baju baju nafsuku
Senyumnya lebih mulia daripada bersihnya pakaian yang kupunya
Tiada makan minumnya ajariku tak serakahi cawan dunia
Sedikit lelapnya ajariku terjaga dalam sadar di fana rasa
Jarang mimpinya ajariku lebih menghuni alam sang Atma
Kotor dan compang camping bajunya, memberi makna, betapa nafsu dan kulit adalah tak lebih jijik dan hina dari segala
hartanya
Namun sinar matanya hanya siratkan satu pesan sederhana

Aku hanya butuh Tuhanku saja......

ALAM SUWUNG............. (ellyssee lavin)

by Ellyssee Lavin (Notes) on Saturday, April 3, 2010 at 11:35am



Buaiku dituntun jenuh dalam keluhan lalu
Lelahku terantuk pada kelembutan bisu
Cipta ini tak jua diam bermain dalam lingkar budhi tanpa akhir pasti
Rasapun berjalan perlahan ikuti dari tepi tak memaksai
Akh, sulitnya mengasuh emosi, betapa bebalnya sukar kubuat terhenti

Pejam ini tertuju pada titik cekam terdalam
Diam ini merayap sentuhi pori pori sadar
Batinku menggeliat lambat, gairahnya merambat buat seisi hati gemetaran hebat
Hening ini telah pertemukan rasa jati sang eling
Membuncah sedemikian rupa cengkramai atma
Siang malamku tak kan rubahi warna alaku dan segala rasa
Persalinan ini telah lucuti segala baju dan topeng pertunjukanku
Mungkin aku telah lakoni naskah dalam peran yang keliru
Karena berpentas saja tak cukup tanpa mengenali kehendak mutlak sang sutradaraku

Akh...
Rumitnya memahami diri sebatas Kamil Insani, selalu terjerat kepada banyak kotak dan predikat, padahal dulu saja aku datang tanpa nama dan atribut2 atau sebuah identitas, aku datang dilepas sebagai makhluk yang bebas dan pribadi tanpa batas
Marcapada dan khalayaknya tlah membius hakikat menjadi kehilangan "jati"nya
Jiwaku merintih kini, mencari yang tiada, menjelajahi alam suwung hampa
Kulakukan, menanak diri dalam lingkaran kubah hening tersunyi
Mengolah rasa segenap cipta dan karsa, demi tersaji sadar sebijaksana rasa
Kupuja jiwa dalam ritma irama sukma, meski godaan kian lalu lalang menjelma
Namun rasa jati tak mudah digodai, dalam mutlaknya begitu suci dan sakti
Biarlah rasa berpindah corak dan warna, menggubah illusi dalam nuansa sejati
Yang tiada harus tetap kucari, agar lengkap kembali diri ini bersama jati
Walau lapis setiap batas tak kan pernah tuntas kukupas, namun hasratku bukanlah asa yang mudah terkelupas

Karena harapku adalah hidup atas sel sel jiwaku, tak lagi sama dengan ingin2ku terdahulu, yang tak lepas dari baju baju usang berdebu
Rasaku bergayut pada qalbu yang hidup hangat berdenyut
Ciptaku melebur dalam gelombang panah tak berbusur
Cinta pun terbit dalam wajah yang sama, hadir menyatu dalam bayang dan cerminan jiwa
Rupanya aku tak sendiri menghuni wahana sepi, ternyata aku punya saudara yang kerap hanya kutangkap kilat bayangnya saat aku menidurkan mimpi dalam terjaga
Mengenalnya meski belum begitu lama, namun siratnya seakan kami telah mengenal lama
Tatapan dan senyumannya mengajariku akan kesederhanaan diri yang Maha, menjanjikan sinar pada kepekatan aura lama

Aku kian berani rasuki sunyi, rebah pasrah lepasi resah2 yang berjubah
Diamku menyeruak selinapi hening batin yang perlahan beranjak luwes bergeming
Sekali lagi, tariannya buat sisi hatiku bergetar hebat, gairah jiwaku bersambut menggeliat
Akupun tak lagi dapat berujar ucap, ceritaku tak lagi pantas kujadikan isi diktat
Karena bibir tak selamanya katakan sepakat, sebelum rasa menguji segenap benak
Mataku tak lagi sekasat dahulu, diriku terlalu memikat kupandangi dalam tidur dan terjagaku, tak mau aku terperangkap maya dunia lalu

Rasaku seolah Sang Ratu, yang tak lagi perlukan Raja dan serdadu serdadu
Cantiknya terpancar dalam Sir sebenar,
Lembutnya menebar Kasih tak kenali perih,
Cintanya membahana tanpa nuansa murka durjana,
Bahasanya bak hangat surya dalam lisan bibir jiwa
Hasratku kembali menggigil dalam rindu, keramaian dunia tak ubahnya pusara tak bernama
Aku ingini kedamaian hening, aku ingin kembali rasuki kebahagiaan di alam diam
Perjalananku, tuntun dan bimbing aku, tuk kembali rambahi damai cinta tak berujung, di pedalaman alam suwung.......

Perempuan dan Kabut Hujan

by Ellyssee Lavin (Notes) on Friday, April 2, 2010 at 4:08pm


Seperti biasa...
Kabut lembut menyelimuti seputar kaki gunung hingga pucuk pucuk rumput
Ketika gelegar petir terakhir menjerit, bak pluit hentikan deras lebat air lelangit
Lalu dingin menyanyikan gigilnya mengundang cekaman sepi
Tak nampak lagi kenari dipucuk hijau cemara, tak terdengar lagi pekik elang berkeliar mencari mangsa
Lengang sdh tanah basah, hanya desau daun bambu yg terdengar sesekali mendesah

Seraut wajah dibalik tirai warna biru cerah
Matanya sayu nampak kosong memandangi hari beku yg sombong
Tangannya berulangkali memainkan lembut ujung gelombang rambutnya yg hitam memanjang
Wajahnya tiada tampak semburat hangat
Meronanya pun tak lagi semerah delima

Mungkin wajahnya terlalu biasa, namun ketika senyuman khasnya terbit disela bibirnya, biasa itu berubah seketika, terlalu sederhana
Ada gurat keras dibentuk kedua alis tebal hitamnya, ada kerapuhan jauh didlm bening telaga bundarnya, nmn sebaliknya, saat dia tersenyum, sinar matanya pancarkan kematangan yg kukuh dan kuat, diatas jalan hidupnya yang begitu berat

Perlahan dia b'jalan dekati pintu kaca
Tangannya dg lembut membuka dan menutup kembali kesemula
Matanya menyipit, dahinya mengernyit, kedua tangannya salin menghimpit jemari seperti menahan nyeri
Tapi bkn karena sakit, melainkan hawa dingin dan gelapnya kabut tipis tlh membuat hatinya menjadi miris, dan batinnya seakan ikut teriris, meskipun tanpa tercipta tangis
Kakinya melangkah menuruni tangga kayu rumah, sesaat bibirnya menghela gelisah yg menggeliat
Angin semilir seolah menyapa dan menyambut dirinya, rambut panjang legamnya tersibak, matanya terpejam dan mengerjap, lalu kedua tangannya bersilang di dpn dada dan menggapai kedua pundaknya, perlahan dia mengusapinya, seperti berusaha bersahabat dg udara dingin yg menggodanya
Langkahnya terayun gontai, melenggang seolah enteng tanpa beban
Sepinya jalanan membuat hatinya menjadi kian nyaman menikmati sisa hari berwarna temaram, tanpa hangat dan tiada teman kesorangan

Hatinya mulai bergumam, lirih dan pelan, mungkin hanya malaikat yg mampu membaca dan mendengar...
Ya Tuhan...
Entah apa yg kurasa tanpaMU Maha Kuasa
Langkahku dlm basah licinnya tanah, buram temaramnya senja, gigitan dingin yg menyetubuhi kulit, mestinya buatku enggan menapaki setapak ini, mestinya buatku mencari singgah agar dpt kutunda resah, harusnya aku urung siapkan sampan dilautan dan pergi mengarung
Namun aku bosan merajut renda dan memintal benang, aku lelah bermimpi dlm rebah diatas bantal indah, aku ngeri berangan angan diatas langit tak bertepi
Aku hanya ingin pergi sebrangi telaga sisi hati, aku hanya ingin berlabuh disamudera jiwa, aku hanya ingin selami kedalaman laut qalbuku, aku hanya ingin berlari temui sang Nurani

Aku masih lagi belum tahu dan menelanjangi AKU, ketika mimpi2 mengacaui dan mengusik ketenangan sanubariku...

Aku harus lebih memahami arti BUTUH, ketika asa jatuh lukai hati seluruh baluh...
Aku harus kian jeli belajar memaknai arti SENDIRI, ketika keangkuhan sepi membuat nyeri hari hari diri...
Biar memori usang kujadikan sebuah lagu elegi, agar dpt kukenang dilain ruang hati
Biarkan aku m'cari bebas tanpa terluka dan kandas, sebab aku telah puas dlm belengguku yg m'jadi batas
Angin...
Semilirmu tebarkan wangi rindu alam yg simpan mustika Tuhan
Basahnya dunia, terpasrah sudah dlm hujan yg tercurah bersimbah berkah
Kehijauan alam yg lugu namun laksana jamrud ratu, membius nafsu meredam kemarahanku
Dingin ini mengajariku mandiri diatas kerapuhanku, ada pijar bara yg dpt kucipta dibalik beku merah darahku
Aku ingin mencipta sebuah lagu, dg syair syair Cinta berbait sepanjang nyawaku
Biar sang sukma menyanyikannya untukku tanpa harus menidurkanku sebelum fanaku
Biar iramanya diserapi pori pori batinku, lepaskan sesak jejalnya sesal kecewa yang mengaratinya

Sementara, dalam diam... kunikmati indahnya kanvas hampa
Tiada warna ataupun sketsa lukisan disana, kosong, putih dan menyejukkan tembusan dada
Aku tak ingin mengotorinya dg mimpi, aku tak mau merusaknya dg sketsa asa, akupun tak berniat poleskan warna warna dimensi imajinasi
Bermain sendiri di ayunan kesenyapan sunyi
Ternyata tak beda dg jalan jalanku sore ini, mengayuh langkah ikuti kata hati, merenda rindu bercengkrama dg alam yg akrab dlm bahasa bisu
Tak habis keasyikan ini dlm suasana haru biru, kesendirian bawa aku jauh menjelajah kedlm belantara hikmah yg blm terjamah
Biarlah harap kini berganti hasrat demi rasa jemu menanti jawab, bagai sinar di pekat gelap

Seperti biasa...
Kucari sepi, kumenanti tuk sendiri, saat geloraku tlah kutaklukan lagi...
Seperti biasa...
Wajah perempuan itu kembali dtg lagi, senyumi aku sapa aku dlm dunia "diam"ku, dan kini kami asyik b'cerita ttg perasaan yg sedkt hampir sama
Bedanya, Dia tetap begitu sempurna dlm diam dan bahasa bijaknya yg tak biasa...

Ibu.....

by Ellyssee Lavin (Notes) on Thursday, April 1, 2010 at 12:25am


Ibu...
Air mataku jatuh terbuncah haru
Sepiku kian kejam mengiris qalbu
Hari hari menjauh memenjarakan jarakmu padaku

Ibu.....
Apa kabarmu belahan jiwaku?
Tahukah kau Ibu, aku sangat merindukanmu..
Kau dengar, nyanyian gerimis malam yang begitu memilukan..
Dia bawakan pesan sedu sedanku diatas bantal kecilku
Kau lihat sinar rembulan yang nampak redup tiada hidup..
Dia coba sampaikan ada separuh sumringahku terasa hambar
Tidakkah kau sadari pelangi tak lagi hadirkan indahnya ketujuh warna warni
Karena sebagian bahagiaku telah hilang rengguti hati

Ibu.....
Apa kabarmu hari ini
Dulu dari kisah album lamamu menjadi sejarah darahku
Kasihmu tak lekang diusia usang
Cintamu tetap hangat membara dalam waktu yang usah renta
Jasamu menjadi menjadi inspirasi seorang Dewi
Keibuanmu bak mukjizat cahaya bagi seribu jabang bayi

Ibu.....
Apa kabarmu hari ini..
Wajahmu penuhi kelopak mata ini
Suaramu lembut merdu sesaki baluh qalbuku
Teduhnya matamu tak mampu menahan kerinduanku
Hangatnya pelukmu luluh lantakan hati sepiku
Pangkuanmu begitu kuat memanggil jerit naluriku
Kumau habiskan tawa dalam pijar sinar mata sahajamu
Kuingin sematkan segala do'a dibawah juntai kaki kaki berkahmu
Kuingin habiskan air mata ini tuk basuhi peluh lelahmu

Ibu.....
Apa kabarmu hari ini..
Aku rindu bermanja dikala kuingat kau beri aku kembang gula
Aku kangen omelan dan gerutu kecilmu, saat ku malas rapikan tempat tidurku
Aku rindu celoteh ramaimu, saat aku merengek minta sandal kayu

Ibu...
Temui aku dimalam gelapku, ada ruang istimewa dilelap tidurku, disana aku menunggu songsong sapa dan senyuman teduhmu, raih bahuku, peluk aku, bawa aku jauh kedalam damai pangkuanmu, usapi rambutku, caci maki aku dalam petuah2 saktimu, kenali aku dalam sejuta rasaku yang kubawa begitu banyak padamu...

Ibu.....
Aku tahu engkaupun berat menanggung beban rindumu
Rasamu pun telah lebih dahulu tau akan susah dan bahagiaku
Buatku enggan cerita banyak tentang aku punya balada yang tak biasa
Buatku berat sampaikan kabar, jika aku tak sempurna bersandar
Buatku urung sodorkan muka yang murung dibalik kerudung

Ibu.....
Semakin aku dewasa, semakin engkau beranjak tua, sayangku terasa makin nyata
Sabar dan solehahmu adalah cita2ku dalam berilmu hidup diatas umurku
Menjadi seorang Ibu, suatu bukti nyata bagiku, jika Engkau bagian dari jiwaku
Jauh darimu tak lantas lupakan kesejatian kasihmu yang kau tebar disekelilingmu

Ibu.....
Kau perjuangkan nyawaku hingga kuterjaga di dunia
Kau hidupi aku dari darah dagingmu
Kau besarkan aku dengan dari segenap kesadaran jiwa ragamu
Kesulitan duniawi tak buat kau susah hati beriku cinta bertaruh diri

Ibu.....
Semoga kau baik-baik raja dan sempurna dalam istiqomahnya
Kuharap kau makin bijak menapaki usia
Aku bangga melihatmu makin sering mengenakan pakaian malam yang putih lambangkan ikhlas nan sakral
Tanganmu tulus menenteng tasbih dalam dzikir lirih nan halus
Aku kian tenang kerap mendapatimu terjaga dalam sembahyang di sepertiga malam, ditemani Ayah yang tak kalah gagah menjadi Imam di mushola yang tak megah

Ibu.....
Aku rindu, namun kita mesti terantuk jarak waktu dan terpaksa simpankan rindu
Tak mengapa, asalkan kau setia hadir dalam mimpi malam2ku
Jenguki aku dalam do'a2 malammu
Kuyakin rasaku rasamu adalah sama dan menjadi satu

Ibu.....
Titip pesanku untuk Ayah
Akupun rasakan rindu yang sama
Sampaikan padanya, aku begitu gemas menyisiri rambut putihnya
Kedua alis tebalnya masih sisakan garis wibawa yg dulu sering aku takut dibuatnya
Suara beratnya buatku kagum dan tak berani banyak bertanya

Ya Tuhan...
Aku merindukan sangat keduanya
Beri mereka panjang usia dalam sehat lahir dan batinnya?
Selamatkan mereka
dari segala uji coba
Jauhkanlah mereka dari setiap musibah dan marabahaya di sekelilingnya
Ampuni mereka dari segala khilaf kecil hingga dosa dosa yang membebaninya
Mudahkanlah "perjalanan" mereka dalam pencariannya menujuMU dan mengenalMU
Tempatkan mereka sebagaimana mereka dahulu berasal dariMU
Dan aku yakin, Syurga adalah cita2 mereka, aku dan setiap insan milikMU
Dan do'aku kan selalu menghantar langkah2 mereka padaMU

Ayah, Ibu.....
Maafkan segala kurang, dan dosa2ku padamu, yang tak pernah kutahu dan tak dapat lagi kuhitung dan kutakar berapa banyaknya padamu, hingga menjadi susah dan hujanan penat serta air mata darimu,

Ayah, Ibu.....
Do'akan aku, agar aku mampu menjadi Amanah yang mudah dan berkah bagimu

Ya Rabb.....
Dengarlah dan kabulkanlah do'aku
Dan ijinkanlah malam ini mereka datang temui aku dalam mimpiku
Aku telah lelah menangis ratapi rasa rindu akan sang Ibu

BIARKAN AKU DENGAN DIRIKU...... [-ellyssee lavin-]

by Ellyssee Lavin (Notes) on Wednesday, March 31, 2010 at 12:39pm



Kemarahanku...
Telah habis kusisir rapi tadi malam
Segala kesalku kujadikan dongeng penghantar tidur siang
Tangisanku, airnya telah kutukar dengan air garam di lautan
Sakitku telah kumanjakan hingga kuterlena tanpa warna merana
Lukaku kubiarkan saja menganga, hingga aku lupa jika perih adalah rasanya
Letihku kujadikan waktu tuk mulai lagi merajut rindu
Tanpa siapa siapa, buatku makin berarti mengemasi sendiri
Dari kecewa, pedihku kian mahir tajamkan sadar
Bahkan tak lagi kumengerti arti sabar, batas dan sesal
Ketika diam bujuk aku runcingkan mata batinku
Ketika pilu merayuku tuk selami dasar qalbu

Saat kutertawa, entah mengapa hatiku begitu hampa
Begitu aku tersenyum, benakku sebaliknya sendu dalam murung
Aku lupa kapan senang itu kurayakan dikala langit tak berawan
Aku juga tak ingat lagi kapan aku menceritakan mimpi pada hangatnya mentari pagi
Aku pun enggan ungkapkan harapan2 ketika temaram pertemukanku pada sang rembulan

Ku mau hapus segala kenangan dimasa pupus
Ku tak ingin simpan indahnya tanpa alasan
Ku enggan kembali pada diri yang tak seperti aku lagi
Aku terlampau lama berkelana dalam jelaga derita
Aku terlalu menerima saat aku berhak menepis apa yang berhak untuk aku menolaknya
Tempatku bukan pelarian dari kecewa atau kekesalan
Namun sebuah singgasana yang pantas kusebut mahligai kedamaian

Siapa bilang ketenang sebuah angan angan
Setelah lama aku banyak berguru pada ilalang2 di padang kegersangan
Siapa bilang sendiri begitu tersiksa dicekam sepi
Sementara hening begitu pasrah, bening dan buat sadarku kian mengalir mudah
Apa lagi yang kucari, tiada lagi yang kunanti
Akar ini tumbuh tunggal memancar pasti dalam diri
Dunia tergenggam dalam kepalan tangan bijaksana
Mencengkram najis dan durjana sisi hitamnya
Sementara sari patinya adalah pesan suci akan alam hakiki

Tak ada yang pasti dari illustrasi, halusinasi dan imajinasi selain bermimpi
Tapi tidak dengan yang kualami
Ketika mataku terpejam dan mencipta diam yang tajam
Aku tak singgah ke dimensi fantasy atau semacamnya lagi
Tiada maya, bukan pula fatamorgana
Ketika hampa lahirkan rasa luar biasa
Tiada ibarat dapat kujadikan umpama
Tiada lukisan mampu kujadikan perbandingan gambaran
Tiada bahasa yang mampu mewakili dari sejuta rasa yang tak pernah kurasa sebelumnya

Maafkan aku...
Darahku, dagingku, dan semua boneka boneka sandiwaraku
Jika aku terlampau sibuk dengan diriku
Gelisah telah kugubah menjadi kisah
Pahit manis, telah disapu hampa hingga terkikis habis
Entahlah...

Aku pun tak mengerti mengapa aku mulai menyukai diam di keramaian, dan ramai di kediaman
Aku masih punya rasa seperti matahari dan panasnya, aku rasa kecewa saat diabaikan
Seperti jamu dan pahitnya, aku rasa benci saat dikecewakan
Seperti duri dan tajamnya yang ciptakan tikam tajam, aku merasa sakit jika dilukakan
Seperti angin dan lautan yang bergumul dalam badai dan gelombang, aku marah jika aku tak suka diremehkan...
Seperti mendung, petir dan hujan, aku pun pasti menangis, bahkan menjerit bebankan haru dendam dari kepiluan

Namun kusadari, segalanya terjadi seperti uap dan api
Lekas menjadi dan kemudian hilang kembali
Andai membekas, baranya cepat mati dan abunya pun mudah tersapu angin lagi

Perlahan namun pasti, besi bakal pedang yang kutempa beriku ilmu berarti
Seribu satu rasa tadi adalah panas bara yang membakar mata hati, kulit batin, pori2 jiwa, dan bilik qalbu

Siang malam telah kujadikan batu untuk menuliskan perjalanan batinku
Kejamnya waktu membiusku dalam tafakur senduku
Keseharian yang menyudutkan, telah bulatkan yakinku..
Kenyataan yang tak memihak begitu lama, telah buatku terjaga, bahwa sadarku kian setia tawarkan bijaksana

Terkadang ego tergopoh begitu nampak bodoh
Mengajaku marah, menangis dan lampiaskan rasa yang siap kuterima
Namun aku tak lagi berdaya bahasakan semua
Namun aku tak bisa lagi meraungkan amuk marahnya
Aku tak mampu lagi mengurai air mata seperti biasanya

Ada yang melarangku
Ada yang menahanku
Ada yang membujukku
Ada yang mengendalikanku
Ada yang peduli padaku
Ada yang menjagaku
Ada yang menyayangiku
Ada yang mengasihiku
Ada seseoran dan atau bahkan lebih dari itu
Karena Dia mampu buatku tegar diatas rapuhku
Karena Dia mampu buatku kuat diatas lemahku
Karena Dia mampu buatku bahagia diatas ranaku
Karena Dia selalu ada untukku
Karena Dia terima apa adanya dari segenap aku

Semua ini adalah bahasa qalbu
Semua ini terlahir mengaliri sanubariku
Sejuknya memerciki seisi jiwa hingga rongga dadaku
Bak embun pagi, tetesnya basuhi kusam dedaunan pohon jalanan

Diam..., diam..., dan diam...
Mulailah mengertiku kini
Bahasaku tak lagi lepas beterbangan
Rasakupun bukannya bebal tanpa kepekaan
Aku hanya ingin dimengerti
Sendiriku bukan karena aku tak mau berbagi hati
Hanya inilah caraku satu2nya menikmati bahagia
Agar aku tak lagi terbentur dinding dinding kecewa
Ijinkan aku menjadi aku
Tanpa ingin dari segala ingin yang mencabik cabik diriku dahulu
Nyatanya aku hanya butuh "sesuatu" daripada kau, kamu dan kamu

SIAPAKAH AKU DAN PEREMPUAN ITU.....???

by Ellyssee Lavin (Notes) on Saturday, March 20, 2010 at 2:25pm



Assalamu'alaikum wahai perempuan berwajah damai...

Wa'alaikumsalam...

Siapakah engkau gerangan, mengapa kau begitu lekat menjadi aku dlm nyata bayangan...?

Bukankah kau sendiri yang membuatku menjadi bayanganmu, kenapa sekarang kamu begitu merasa asing padaku, sementara aku adalah dirimu...?

Karena aku tidak pernah seperti engkau kecuali bentuk dan rupaku, seperti saat kubelah muka didepan cerminku dulu, namun kenapa sekarang air mukaku begitu berbeda, padahal aku masih berkaca dalam cermin yang sama, haruskah aku yakin engkau itu aku..?

Apa yang kau anggap beda antara engkau dan aku, antara kita yang tak lain adalah sama.., mengapa engkau begitu meragukannya.., apa yang kau rasa sehingga kau begitu antusias bertanya..?

Jelas berbeda, aku tak sepertimu, dimana kulihat ikhlas yang lepas dari senyumanmu,
Aku tak sepertimu, dimana kudapati bening telaga yang pasrah dimatamu,
Aku tak sepertimu, dimana kurasakan kedamaian dari pancaran aura wajah yang sederhana,
Aku tak sepertimu, ketika kurasakan aku begitu terlindung oleh tatapanmu yang teduh bijaksana,
Aku tak sepertimu, betapa tenangmu membuatku tegar dalam segala lemah saat diterpa sang badai,
Aku tak sepertimu, dimana kau hanya diam dan tetap bersahabat saat amuk amarah meradangku sangat,
Aku tak sepertimu, saat aku terkapar luka, engkau hanya anggukan kepala dan bilang bhw kau baik baik saja,
Aku tak sepertimu, yang ramah menyambut masalah tanpa tersirat takut dan resah,
Aku tak sepertimu, betapa engkau mampu membuat jinak segala beban didalam benak tanpa keengganan dan menolak,

Aku mengagumimu, aku terpesona padamu, aku iri padamu, aku ingin sepertimu, aku harus sepertimu disaat aku muak dg diriku yg selalu lemah dlm melangkah, dan jatuh berulang terantuk batu,
Siapakah engkau disitu, mengapa selalu kau senyumi aku, membuat sejuk seisi kalbuku,
Mengapa selalu kau penuhi bayangku, membuatku merasa nyaman bersamamu,
Mengapa kau selalu isi layar mata dan pikiranku, membuatku enggan berfikir dan berkhayal selainmu,
Mengapa kau seolah nyata, membuatku tak lagi miliki rasa yang tenang dalam nuansanya,
Mengapa bisa kau buat aku seolah lupa akan pahitnya dunia yang senantiasa pudarkan "asa dan rasa",
Mengapa kau mampu lukiskan senyumku, sementara tangis menggayuti dukaku,
Mengapa kau mampu bius aku dalam beningnya hening, sementara derita hati begitu gegap gempita,
Mengapa kau mampu rayu aku tertawa, padahal letih layu dan pilu buatku merana,
Mengapa kau bisa ajak aku berlari mendaki imajinasi dan indahnya mimpi, sementara jatuhku sulit buat kaki nyeriku berdiri,
Mengapa kau bisa buatku arungi luasnya samudera, padahal pedih perih kian sempitkan rongga dada,

Bagaimana mungkin kau buat aku berkasih2, sementara disekelilingku muka muka durjana hunuskan tajam dendamnya,
Kok bisa kau buat aku biasa dan baik2 saja, padahal didepanku hanya jalan buntu yg tawarkan tebing putus asa,
Subhannallah...,
Mengapa kau sulap rasaku menjadi bahagia, ketika batinku mustahil sembuh dari rajam derita,
Subhannallah...,
Mengapa juga kau buat aku begitu sayang, padahal mereka tak lebih menganggapku serupa budak tak bermata, tak ber"rasa", tak berotak dan tak berpakaian...
Subhannallah...,
Kau buat aku begitu merasa berharga dan kaya dlm jiwa, padahal diriku tak miliki apa apa,

Siapakah engkau wahai perempuan dalam bayanganku,
Siapakah engkau wahai makhluk dalam cermin jiwaku,
Siapakah engkau wahai perempuan yang bertutur lembut di relung kalbuku,
Siapakah engkau wahai perempuan yang tenang yang menduduki kursi suci nuraniku,
Siapakah engkau wahai perempuan yg seperti kembaranku, siapakah engkau...???

Perempuan itu tak menjawab satupun pertanyaanku, lagi2 dia hanya tersenyum penuh arti kepadaku, dia hanya letakkan telunjuk kanan didepan bibirnya...

".....ssssstttttt...."

Lalu aku terperangah melihat tatapan matanya, siratnya terjemahkan arti diamnya,

"....jangan banyak bertanya...."


CERITA DALAM DIAM _________ (ellyssee lavin)

by Ellyssee Lavin (Notes) on Wednesday, March 10, 2010 at 2:04pm


Aku tengah menikmati sang tenang
Berawal dari keramaian
Riuh rendahnya jelas telah membuat lelah
Sisi ruang batinpun kian jengah
Isi kepala seolah berontak meretak sinyal gelombang pecah
Segala pekik, tawa, jerit dan teriakan suara suara "jelata"
Memekakan pendengaran, memacu debaran jantung
Tak dapat terbaca lagi ramah yg perangainya sanggup membuat tersenyum jiwa
Tak jelas lagi nyanyian nyanyian yg mampu menyulut bara Sir di sanubari
Kaki ini seolah menghentak ingin beranjak
Telinga ini seakan hilang peka akan suara
Mata ini sepertinya jera meliarkan bola binarnya
Otakkupun enggan mencerna dalam jenuh nalarnya
Dan hati ini segera berdendang menabuh genderang peperangan

Realita dan logika
Pesonanya bagai jerat berwajah perangkap indah
Menawarkan kanvas dengan warna lukisan menggoda
Memberikan illusi dari ribuan mimpi mimpi
Kilauan glamournya seketika menutupi silau mata hati
Rasa nikmatnya mengelabui petuah suci Nurani
Pentas gemilang dengan banyak Narasi Syaitan
Budakki manusia dari segala fitrahnya...

Kemudian diri rindukan sepi
Mencari ruang sendiri tuk padamkan api
Lalu sibuk sandarkan setiap tanya pada isi dada
Ku tolak segala rayuan sang maya, bukan karena aku lemah tak berdaya
Namun cahaya telah pudarkan hasrat tak bersukma
Letih lemas nafsu pun tak lagi beringas
Dari ramai aku pergi lari bergegas
Seluruh asa yang meringkus telah usai kujadikan pupus
Terduduk sudah keributan hati dari angin surga duniawi
Minatku padamu telah kukembalikan pada halusinasi
Dambaku padamu telah kubakar menjadi abu dan debu
Kuserahkan pada angin2 yang berlalu meninggalkanku

Betapa sulitnya kucapai kesendirianku
Sungguh mahal harus kutebus kediaman itu
Dimana aku harus menanggalkan segala baju bajuku
Telanjang tanpa selembar benang keinginan untuk menjadi sebenarnya AKU

Tak mampu kutatap kedudukannya melalui mata dalam kasatnya
Sangat indah rasa yang kudamba
Tak sanggup ucap lisanku menuturkan cerita kecuali suara jiwa
Jauh teramat jauh kutempuh, dalam kerinduan aku nikmat mengayuh
Nyata yang ternyata adalah hanya sebuah hampa dan saratnya makna
Hasratku akan kembara laksana pena yang tak pernah kehabisan tinta
Mimpiku akan tenang bagai mata air di padang gersang
Cintaku akan diam seperti malam yang setia menanti rembulan

Sadarku adalah nyawa ku seutuhnya
Meski betapa banyak darah batin yg tertumpah dlm peperangan untuk menjaganya
Telah kukorbankan jiwa jiwa yang lain yang mengisi ruang batin, setelah keberadaannya denganMU menjadi tak lagi penting, sungguh sangat tak berbanding
Aku harus terbiasa mengikis tunas tunas ilalang cinta
Yang menumbuhi ladang hati dimana disana adalah taman sebagai SinggasanaNYA
Aku harus bisa menunggalkan Rasa dan menanggalkan semu dari semua rasa, rasa, dan rasa
Aku harus kian faham, jika pengorbanan adalah ongkos mahal untuk sebuah perjalanan
Aku pun mesti mengenali pasti, yakinku dari gamangku selama ini adalah tenaga dan semangatku melajukan langkahku

Semoga ragu tak lagi menemuiku
Kuharap pedih tak mampu meluruhkanku
Kuingin luka reda dari sakitnya, sembuh dan menambah yakinku kian kukuh
Kuyakin dunia mampu kujadikan kapal sederhana diatas nafsunya, agar biasa kukemudi tanpa kemarahan lagi
Sementara aku memiliki kekasih kekasih dari ego selain Kasih
Biar kan kujadikan mereka guru dari ilmu keseharian pembelajaranku
Bagaimana memupuki pohon sabar
Seperti apa aku harus merawati tanaman kembang cinta
Sudahkah aku bisa menata rapi rumput rumput indah hijau keikhlasan
Bisakah aku memisahkan antara tanaman keadilan dan tanaman kasih sayang
Bagaimana aku harus menghadapi dan membasmi hama dan serangga yang merusaki tumbuhan di taman hati ini dengan bijaksana

Kusadari, saat aku kian menyadari
Biasanya aku dahaga dari bijak dan sederhana
Ketahuanku semakin nenelanjangi ketidak tahuan diri ini
Bila kukenang keramaian itu, senyumanku seolah ingin berterima kasih
Dari sana kucapai sebuah arti kerinduan
Dari pecahnya jengah kutemui damainya kesunyian
Dari marahku kudapati sesal dan kejeraan
Dari letihku kumampu bangkitkan semangat yang "baru"
Dari pedih telah kutemui luas indahnya taman Kasih
Dari deraan luka kini kumengerti cara menCinta
Dari gelapku aku dapat berjalan dibawah Cahaya
Dari air mata kutemukan mata airnya
Dari pilu kuyakini akan jawab sedalam Rindu

Semua karenaMU
Segalanya adalah rencana indahMU
Tak terkecuali hardikan2 kecil dari peringatanMU
Adalah obat penawar dari kealfaanku
Hakikat Cinta dan Kasih SayangMU

DUNIA BUKAN SANDARAN

by Ellyssee Lavin (Notes) on Friday, May 25, 2012 at 8:08pm



Begitu byk orang sibuk n kebingungan mencari ketenangan, tdk sedikit manusia gelisah mencari kedamaian, tdk hanya kena pd manusia yg berkekurangan atau yg b'kecukupan, entah knp hidup ini n dunia ini begitu sulit difahami, hingga mereka seolah t'jebak dlm belenggu dirinya sendiri.

Makan, tidur, bersosialisasi, bekerja dan bermimpi, berfikir, merasa dan berfikir lagi, seolah menjadi ruang waktu yg tak habis dimengerti, jiwa mereka tak bisa berdusta dgn kegalauannya setiap akhir letih n sendiri,
"apa yang aku cari?"
"apa arti hidup ini?"

Pertanyaan2 yg kerap muncul n hilang kembali, karena tdk pernah mdpt titik temu n jawaban atau penjelasan didunia akalnya yg penuh keterbatasan.

Ketika mereka menemui kegagalan, mereka seolah sejenak sadar, maka dicarinya Tuhan, mengadu n memohon habis2an.
Ketika mereka mengalami kejatuhan n keputus asaan, kesadaran dicarinya belakangan, merasa bersalah dan hina lalu memohon ampunan Tuhan, tapi tdk sedikit pula yg murka mempersalahkan n menghakimi Tuhan.

Apa yg jadi sebab mereka menjadi sedemikian dangkalnya menjalani n memahami hidup didunia, hingga mereka kerap kehilangan pegangan, keyakinan, kepercayaan bahkan lupa akan keberadaan Tuhan?
Pemahaman ajaran yg didapatnya tdk lebih dari sekedar basa basi n ritual yg tdk difahami hakikatnya sebagaimana seharusnya.
Kepentingan n kebutuhan duniawi lebih mendominasi pikiran mereka daripada kesadaran diri n kesadaran berkeTuhanan.

Urusan perut, syahwat, gengsi sosial, n ambisi kekuasaan serta kepuasan adlh menjadi hal utama yg menghijab kesadaran, terjerat dlm fatamorgana yg makin menjauhkannya dari hakikat hidup yg sesungguhnya.

Ketika mereka letih, mereka beramai-ramai mencari ilmu ketenangan dgn menghambur2kan uang, mencari guru2 spiritual dari sgl ajaran, ironisnya, mereka mau yg serba instant... :D

Tidakkah mereka berfikir sederhana saja, ketika badannya sehat bukankah itu hal yg paling nikmat? Ketika dlm keadaan TIDUR, masih adakah yg mereka pikirkan?
Ketika mereka kenyang, masihkah mereka merasa lapar? Ketika mereka penuh minum, masihkah merasa kehausan?
Ketika mengenakan pakaian, apakah perlu dipakai ratusan helai kain dibadan?

Jadi apa yg m'buat mereka begitu kegelisahan, termangu, murung, khawatir n terpuruk dgn sgl beban pikiran?
Hanya karena perkara duniawi yg sbnrnya ilusi?

Padahal, kalau memang merasa sangat berat n keberatan dgn apa yg kita pikul, kenapa tdk kita lepaskan saja beban2 itu agar kita terbebas dan bisa melangkah ringan serta dapat bernafas lepas.
Begitu pula dgn sgl "beban duniawi", untuk apa dikhawatirkan n ditakutkan lagi?

Kerja keras manusia dlm berupaya menjaga kelangsungan hidup pada masa kini sdh tdk tulus lagi, tetapi lebih kpd seolah "tidak yakin kpd Kekuasaan Illahi"
Akal n pikirannya dikuasai ego yg melahirkan ambisi n obsesi yg tak henti2.
Terlupa pada garis hidup yg telah ditentukan qada n qadar dari Tuhan, dimana sgl waktu telah habis tergadaikan hanya demi dunia n kepuasan, otaknya setiap hari terkuras habis digunakan untuk mencari cara menguasai dunia lebih byk lagi, hatinya terlupakan, n jiwanya terabaikan.

Kecerdasan n wawasan ilmu pengetahuannya dianggap sebagai aset pribadinya mutlak, kesuksesannya dianggap berkah dri sgl upaya kerja keras dan pemikirannya yg luas, merasa telah mampu menundukan dunia dgn isi kepalanya, merasa benar telah berhasil mendapatkan rejeki yg ia dpt dari hasil keringatnya sendiri.

Tetapi, ketika ia usai makan, sendirian, menjelang tidur, ia merasa kesepian n terasing, merasa hampa, resah, bahkan sedih tak terkira, ia pun kian galau krn tak menemukan alasannya.

Hingga ada rasa nyeri didasar hatinya yg tak didasari menggerakan bibirnya berkata lirih, "Ya Allah ya Tuhanku"
lalu..,
merunduk wajahnya, hingga dagu jatuh menyentuh dadanya, dirabanya dada itu dgn kedua tangannya, matanya terpejam, perlahan meneteskan bulir2 air mata yg kian deras berjatuhan, tiada lagi yg terucap, kerongkongannya seakan sakit tercekat isak, habis sudah waktunya ia lewati dlm kepedihan yg tak ia mengerti, hingga lelah ia terkulai dlm tidur hingga pagi, tanpa jawab atau pun mimpi.

Itulah kehampaan jiwa yg menyuarakan kejujuran, kerinduan kepada Tuhan yg tak disadari sang insan, terhijab sgl tuntutan dan pikiran yg dibuatnya dlm kesengajaan. Pada akhirnya, ketersesatan dan kekeliruannya membawanya kpd rasa ketiadaan.
Merasa hampa dlm limpahan harta, merasa sendiri ditengah pengakuan dan penghargaan diri, merasa sakit dlm kesenangan duniawi, merasa asing dlm kelekatannya terhadap ambisi, merasa tak berdaya dipuncak kejayaan dunia yg dicapainya.

Tiada gelisah kecuali pasrah, tiada serakah selain berserah.
Tiada nikmat selain syukur, tiada puas selain bebas, tiada merdeka selain apa adanya.
Syukuri apa yg ada, bawalah slrh nafsu, ego, pikiran, dan keinginan berserah kpdNYA, menjadi ma'mum dalam Shalat jiwa raga kita yg sesungguhnya.
Dunia bukan sandaran, kecuali hakikat diri sejati dan Tuhan.

(€)

Dalam ketiadaan hakikatnya segala - galaNYA