~ANGGUR DAN JAMU~
Setiap senja, seperti biasa, demi lelaki yang dikasihinya yang sepulang
bekerja, perempuan biasa itu menyajikan secawan anggur manis, dgn penuh
harap, sang lelaki terkasih mampu lenyapkan penatnya yang tergurat
berat diraut wajahnya, namun sang lelaki dingin tak bergeming, menolak
datar akan minuman anggur tadi n berkata..
"..aku tidak haus, minuman ini pun terlalu manis, minumlah..buat kau saja.."
dengan rasa kecewa, perempuan biasa itu menundukan tatapannya, seraya
menarik kembali cawan anggur ditangannya yang lelah, lalu tanpa kata2 ia
berlalu n menjawab lirih, nyaris berbisik..
"..baiklah, jika engkau tak berkenan, maka aku akan menikmatinya sendirian.."
ia pun mereguknya pelan penuh perasaan, dirasakannya manisnya mengaliri
seluruh ruang nadi, membasahi relung kalbu, melezatkan sum2 tulang
jiwa, memabukan kesadaran sang sukma, dalam fana qalbunya pun
bersenandung..
"..wahai manis nan sejati, andai aku mabuk akan
lezatmu, maka jangan biarkan aku mati lekat pada rasamu, karena hati ini
hanyalah milik Kekasihku.."
perlahan, sudut matanya berubah
menjadi genangan telaga indah, namun sinarnya tetap berbinar cerah,
sekali lg, qalbunya lirih bernyanyi..
"..Kekasih, betapapun
manisnya setiap tetes anggur yg kureguk, tiada nikmat selain manisnya
merasakan kerinduan pada KasihMU disetia aku kehausan.."
lalu perempuan biasa itu tertidur dgn mata basah n seulas senyuman diwajahnya yg sederhana.
DAN
setiap kali pagi hari, tanpa jera ribuan kali, demi lelaki yg
dicintainya, sebelum pergi bekerja, ia sajikan minuman jamu yg teramat
pahit rasanya..
"..minumlah kanda, agar badanmu sehat kau
gunakan bekerja, tiada kena letih yg membuatmu jatuh sakit n kelemasan,
pahit memang, tapi tak mengapa, demi sehatmu terpelihara.."
namun sekali lagi lelaki dingin itu menepis halus tangannya tanpa menatapnya n berkata pelan..
"..sudah berulang kali aku bilang, aku tidak suka minuman pahit, jgn
khawatir pula, aku pasti baik2 saja, kalau kamu suka, ak pergi kamu saja
yg meminumnya sendiri.."
kemudian seraya berpamitan lelaki itupun berlalu melenggang.
Kali ini sang perempuan tersenyum sambil memandang punggung lelakinya
yg berlalu, kemudian ia mulai meminum jamu pahit itu tanpa ragu, matanya
terpejam, ia resapi setiap regukan yg melalui rongga dadanya, ia
nikmati setiap sentuhan pahit didasar hatinya, tiada nampak beda ketika
menikmati lezatnya manis anggur kemarin, ia tetap menikmatinya tanpa
beda rasa.
bersenandung kembali hatinya..
"..wahai pahit
dalam hakiki, jangan engkau larutkan aku dalam kepekatanmu, jangan
engkau binasakan aku dalam rasamu yg tajam memilu, karena hidupku telah
kuserahkan kepada Kekasihku.."
habis sudah minuman itu, kini
ia terduduk pasrah, dalam nafas yang lembut mendesah, tiada genangan
telaga dimatanya, selain pejam dalam manisnya senyuman..
kembali syair2nya bernyanyi diruang hatinya yg ia sukai..
"..wahai Cinta, sempurnalah Engkau Mencinta hamba, pahit dan manis ini
telah menjadi Cahaya jiwa, menyatu menjadi Rasa yg lapang tak terkekang,
selain kegilaan yg indah diseluruh perasaan..."
"..wahai
Kekasih, sebelumnya telah kutawarkan kedua sajian hakikimu kepada lelaki
terkasihku, namun rupanya ia masih belum lagi tahu, apa yg ia hauskan
dikerontangan qalbu, jika kini kunikmati sendirian, ini karena Engkau yg
sudi menerimaku penuh KeCintaan, kiranya Engkau saja yg Mengasihi,
kiranya Engkau saja yg memiliki hati n hidup ini, namun bukan karena
manis n pahit sajian aku berkesaksian, tapi dalam hakikat aku hanya
MerasaiMU Seorang.."
Kesimpulan... :
Seringkali sulit menyadari wajah hakikat dr yg nampak, sukar mencium sirat essensi dalam segala yg hadir dikehidupan ini.
Namun dlm cerita ini, anggur yg diceritakan diatas maksudnya adalah,
"sang perempuan yg senantiasa peduli kepada kesadaran n kehidupan hati
hakikinya sang pasangan, ia kerap memberikan sentuhan Kasih di jalan
Tuhan, sebagai tongkat keyakinan n pedoman kedamaian, agar tidak larut
dalam segala budak keduniawian, tetapi sang lelaki kerap mengabaikan,
dianggap itu hanya kata2 manis yg menjanjikan hal2 indah diluar
logikanya, ia pun menolaknya, n sang perempuan pun menikmati sajiannya
sendiri, sementara sang lelaki, pergi tanpa bekal lagi, sementara
jiwanya merasakan kehausan hakiki. Beruntunglah si perempuan, meranalah
si lelaki yang buta dalam hijab ilusi.
Sementara jamu pahit
termaksud, adalah "ketiadaan" (zuhud dalam kesederhanaan), hal ini pun
ditolak sang lelaki, karena ia tak pernah ingin menderita dalam
kepedihan n kesengsaraan, dianggapnya sang perempuan sangatlah bodoh n
tiada wajar berkesikapan, lalu ia memilih pergi dengan hanya membawa
angan2 n keinginan, yg sesat dalam fatamorgana n harapan kesemuan, ia
memilih terus dlm jalannya kesendirian.
Sementara sang
perempuan, ia penuh hasrat mereguk sajian pahitnya, membawanya kepada
kedalaman rasa yg menghujam dasar jiwa, bahagia diatas bahagia,
menikmati Rasa Cintanya yg penuh cahaya, mengantar dia menemui Wajah
KekasihNYA.
(€)