Thursday, July 26, 2012

JALAN CINTA

oleh Ellyssee Lavin pada 23 Mei 2012 pukul 0:17 ·
dihelanya nafas panjang, sesaat setelah melewati lembah dan perbukitan yang begitu panjang, wajahnya penuh dgn butiran peluh, membasahi wajah letihnya yang kian kuyup, matanya nanar menoleh kearah jalan dibalik tubuhnya, menatap sebuah pemandangan yang sulit dipercayainya, terkesiap darahnya, diantara rasa ngeri dan lega yang seketika disadarinya dalam diam tanpa kata2
tubuhnya terpaku dalam kebisuan yang tak ia hiraukan, pikirannya terbang dan menghilang, apa yang nampak pun seolah sirna dalam pandangan, matanya masih lekat kepada jalan dibelakangnya yang kini tak ubah seperti lukisan halus dalam warna yang kian pupus
perasaannya hampa namun terasa ringan seiring tenangnya irama nafas yang tersisa

dalam diam, hatinya mulai bicara,
"ya Tuhan..., seperti itukah jalanku kiranya, bagaimana aku bisa telah melaluinya?"

matanya mengerjap perlahan, seolah ingin menutup segala bayangan dibalik buruknya apa yang tengah ia pandang, seraya berbalik arah, kakinya kembali teruskan langkah, bibirnya bergumam lirih, "sungguh jalan yang indah"

jauh dalam hatinya, ia asyik bicara, diantara langkahnya yang kini terayun dijalan yang lebar tanpa aral dan tiada terjal, sesekali senyumnya mengembang, di matanya tergenang telaga yang bening yang tenang, ada nyeri tergores didada, ada bahagia membalutnya seketika, kini perasaannya riang dalam damai, tak ia hiraukan kedua telapak kakinya yang penuh luka nyeri sisa dari perjalanan yang bgt panjang, melelahkan, dan kerap mengancam jiwa, dia seolah tak pernah merasa terluka, dia seolah tak pernah mengalami itu semua, dia seolah baru saja menyaksikan kisah yang tak pernah ia sadari jika ia sendiri yang memerankannya dgn bgt sempurna, ia hanya tahu apa yang ia rasakan saat ini saja, mengenang apa yang telah dilaluinya, hanya takjub dan bahagia semata yang ia rasa, ia seperti lupa seketika, kalaupun ada sesaat bayangan kelam dan memedihkan, itu pun dinikmatinya dalam kerinduan, rindu dimana saat2 pilu itu menjadi titian demi titian dan pintu kepada kepasrahan yang membahagiakan, rindu kepada saat2 dimana segala pahit itu dijadikannya sebagai rasa lezat berserah diri sepenuh cinta, rindu kepada saat2 dimana ketika tak berdaya ia sungguh merasa haus akan CintaNYA, rindu kepada saat2 dimana dalam ketiadaan dia begitu mabuk kasmaran memasrahi Sang Maha Kasih Sayang..

kini matanya tak lagi nanar, namun indah berkilat penuh sinar, langkahnya begitu tulus dan pasti, hatinya damai dalam nyanyian cinta yang indah sekali, diantara senyuman yang sulit diartikan, sekali lagi bibirnya bergumam penuh kekaguman dan kebahagiaan
"... nikmatnya jalan Cinta..."

(€)


SENYUM DALAM HENING

oleh Ellyssee Lavin pada 24 Mei 2012 pukul 9:53 ·
dibawah langit biru yang megah, ditengah sinar mentari yang hangat menyinari alam luas, daun-daun hijau itu melambai- lambai perlahan, diantara liukan sang ranting dan dahan yang menari mengikuti tarian angin pagi

beberapa helai daunnya yang menguning dan mulai mengering, melayang perlahan berjatuhan dan terkulai diatas tanah dan rerumputan

tepat dibawah pohon tersebut, seorang wanita nampak asyik termangu menatap pemandangan seperti itu
duduk sendiri diatas sebuah bangku bambu tua, dengan kedua kakinya disilangkan bersila
rambut panjangnya terurai lepas begitu saja, tubuhnya terbalut gaun panjang sederhana berwarna biru samudera

matanya yang bundar, tak berkedip, nampak berseri2 menikmati suasana hari, sesekali senyumnya tersungging diikuti matanya yang terpejam lama sekali,
hanya rambutnya yang sibuk tersibak angin dan membelai wajah polosnya yang tak bergeming

seorang diri, dia menikmati waktu dengan cara yang sesederhana itu, namun siapa yang tahu, jika dia justru menganggap semuanya begitu luar biasa bagi dirinya

rupanya ia tengah bercengkrama bersama keadaan disekelilingnya, seolah2 semuanya bisa ia ajak bicara

dari senyumannya, nampak sekali tersirat rasa bahagia, matanya tak lagi nampak menatap apapun selain terpejam, sungguh terlihat damai dan begitu tenang

tak ada yang tahu apa yang ia rasakan dalam diam dan berkesorangan, tak ada yang tahu apa maksud dari yang ia lakukan ketika matanya mengatup terpejam, tak ada yang memahami ketika senyumannya terukir begitu bahagia disaat yang sama

hanya angin, daun-daun hijau itu, pohon itu, bangku bambu tua itu, rerumputan itu, tanah itu, daun daun kering itu, langit biru itu, mentari itu dan keheningan itu sendiri yang tahu, apa yang dilakukannya, apa yang dirasakannya, apa yang dicarinya

dan pastinya hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu, apa yang dia selami dalam keheningan itu, apa makna senyuman dalam keheningan itu, dan mengapa ia nampak begitu bahagia dalam keheningannya...

(€)
AKU CINTA KAU SAAT INI

banyak yang begitu mengkhawatirkan hari esok, nanti kemudian, dan masa depan
dan hal utama kekhawatiran tersebut adalah harapan, keinginan, impian, kesenangan dan segala hal duniawi yang tak berkesudahan
bukan lagi sesuap nasi yang dipikirkannya, melainkan hektaran tanaman padi
bukan lagi seteguk air yang disyukurinya, melainkan lautan yang ingin dimilikinya

pikirannya terkuasai mimpi, kesadarannya terhijab kabut ilusi
pemahaman akan makna hidup pun mengabur, jati diri yang patut dikenali kian terbenam dan terkubur, begitulah bagaimana pikiran dan ego telah menutup mata hati dengan segala logika dan rasio

kebahagiaan bagi mereka adalah kepuasan dan kelebihan yang tak terbatas, menjadi kurang dari sebelumnya dianggapnya bencana, menjadi tak punya dianggapnya adalah neraka

pemikiran mereka tertuju kepada dunia daripada kedalam diri dan nuraninya sendiri, silau akan daya pikat nikmat dunia, mabuk oleh kelezatan rasa candu dan pesonanya, lupa kepada asal nafas yang terhela saat ini, lupa kepada jantung yang masih berdetak saat ini, lupa akan darah yang masih mengalir dalam nadi pada saat ini, lupa kepada segala nikmat indera yang masih sempurna terasa pada saat ini, lupa kepada ruh dan nyawa yang masih menyangga jiwa raga pada saat ini, hanya demi ambisi dan obsesi duniawi dgn alasan2 pembenarannya sendiri

nikmat yang sesungguhnya adalah ketika mampu mensyukuri keadaan dan ketiadaan dgn tulus, mensyukuri "waktu/kala/saat ini" dengan segenap kesungguhan hati, tidak perlu risaukan esok dan nanti, kecuali yakin dan percaya kepada Sang Penguasa waktu dan hari pun jiwa raga dan seluruh kehidupan ini, tidak perlu sok tahu akan skenario Tuhan dibalik rahasia, misteri dan kehendak serta takdirNYA

kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika mampu berserah diri secara total kepada ketiadaan diatas segala keberadaan kepada Tuhan, tidak akan terpengaruh dan tergadaikan rasa keyakinan dan mahabbah kepada Tuhan hanya karena kenikmatan dunia yang penuh kepalsuan

bagi yang mengenali dan memahami hakikat CintaNYA, maka dia tak akan tertipu pandangan dan tertipu rasa, mana yang ilusi dan mana yang hakiki, apa yang ia cari, apa yang ia nikmati, apa yang ia pelihara, apa yang ia jaga, hanya Cinta dan keteguhan hatinya

dia tak kan pergi dari setianya akan Cinta yang dia rasa dan yang ia jaga pada saat ini, dia sangat takut lupa akan waktu lengah dan lemahnya sesaat saja, dia tak pedulikan esok atau nanti, dia hanya tahu dan begitu khusyuk menikmati Indah dan Nikmat CintaNYA saat ini pula, dia tak mau kehilangan sesaat jeda hanya karena tergoda tipu daya maya dunia

nikmati dan syukurilah segalanya pada waktu seketika dimana terakhir kali menghelakan nafas yang dibawa, maka disitulah hakikat kehidupan yang seharusnya dijaga, bukan esok atau lusa yang tidak pernah kita tahu kapan terhenti dan tak akan pernah bisa kita miliki

setidaknya, syukur, pasrah, berserah dan mahabbah saat ini saja, maka..,
"hari esok dan masa depan adalah saat ini bersamaNYA"

(€)
POHON CINTA

Benih rahasia yang berawal dari tumbuh dari rasa, subur perlahan berakar menghujam dalam kedasar hati tak terelakan lagi...

Tumbuh kemudian, menjadi lebat dedaunan segar ditaman kesadaran jiwa, terpatri didasar hati kian menjadi dahan2 dan ranting2 Kasih Sayang pada pohon yang kokoh dan tinggi...,

Berbunga semerbak harum mewangi, melalui apa yang terlisani, senantiasa mewakili segenap kejujuran nurani..,

Berbuah manis dan matang, yang diidamkan setiap insan yang kehausan, bahkan rindangnya menjadi tempat naungan akan keteduhan yang begitu indah dan nyaman...

Lalu benih apakah yang berasal dari rasa, tanaman apakah yang tumbuh dan berakar dihati, hingga menjadi hidup sebagai POHON CINTA KASIH, tulus teraktualisasi nyata dan hakiki,
ADALAH sepenuhnya benih CINTA kepada Sejati Sang ILLAHI RABBI..

(€)

DUNIA BUKAN SANDARAN

oleh Ellyssee Lavin pada 25 Mei 2012 pukul 20:08 ·
Begitu byk orang sibuk n kebingungan mencari ketenangan, tdk sedikit manusia gelisah mencari kedamaian, tdk hanya kena pd manusia yg berkekurangan atau yg b'kecukupan, entah knp hidup ini n dunia ini begitu sulit difahami, hingga mereka seolah t'jebak dlm belenggu dirinya sendiri.

Makan, tidur, bersosialisasi, bekerja dan bermimpi, berfikir, merasa dan berfikir lagi, seolah menjadi ruang waktu yg tak habis dimengerti, jiwa mereka tak bisa berdusta dgn kegalauannya setiap akhir letih n sendiri,
"apa yang aku cari?"
"apa arti hidup ini?"

Pertanyaan2 yg kerap muncul n hilang kembali, karena tdk pernah mdpt titik temu n jawaban atau penjelasan didunia akalnya yg penuh keterbatasan.

Ketika mereka menemui kegagalan, mereka seolah sejenak sadar, maka dicarinya Tuhan, mengadu n memohon habis2an.
Ketika mereka mengalami kejatuhan n keputus asaan, kesadaran dicarinya belakangan, merasa bersalah dan hina lalu memohon ampunan Tuhan, tapi tdk sedikit pula yg murka mempersalahkan n menghakimi Tuhan.

Apa yg jadi sebab mereka menjadi sedemikian dangkalnya menjalani n memahami hidup didunia, hingga mereka kerap kehilangan pegangan, keyakinan, kepercayaan bahkan lupa akan keberadaan Tuhan?
Pemahaman ajaran yg didapatnya tdk lebih dari sekedar basa basi n ritual yg tdk difahami hakikatnya sebagaimana seharusnya.
Kepentingan n kebutuhan duniawi lebih mendominasi pikiran mereka daripada kesadaran diri n kesadaran berkeTuhanan.

Urusan perut, syahwat, gengsi sosial, n ambisi kekuasaan serta kepuasan adlh menjadi hal utama yg menghijab kesadaran, terjerat dlm fatamorgana yg makin menjauhkannya dari hakikat hidup yg sesungguhnya.

Ketika mereka letih, mereka beramai-ramai mencari ilmu ketenangan dgn menghambur2kan uang, mencari guru2 spiritual dari sgl ajaran, ironisnya, mereka mau yg serba instant... :D

Tidakkah mereka berfikir sederhana saja, ketika badannya sehat bukankah itu hal yg paling nikmat? Ketika dlm keadaan TIDUR, masih adakah yg mereka pikirkan?
Ketika mereka kenyang, masihkah mereka merasa lapar? Ketika mereka penuh minum, masihkah merasa kehausan?
Ketika mengenakan pakaian, apakah perlu dipakai ratusan helai kain dibadan?

Jadi apa yg m'buat mereka begitu kegelisahan, termangu, murung, khawatir n terpuruk dgn sgl beban pikiran?
Hanya karena perkara duniawi yg sbnrnya ilusi?

Padahal, kalau memang merasa sangat berat n keberatan dgn apa yg kita pikul, kenapa tdk kita lepaskan saja beban2 itu agar kita terbebas dan bisa melangkah ringan serta dapat bernafas lepas.
Begitu pula dgn sgl "beban duniawi", untuk apa dikhawatirkan n ditakutkan lagi?

Kerja keras manusia dlm berupaya menjaga kelangsungan hidup pada masa kini sdh tdk tulus lagi, tetapi lebih kpd seolah "tidak yakin kpd Kekuasaan Illahi"
Akal n pikirannya dikuasai ego yg melahirkan ambisi n obsesi yg tak henti2.
Terlupa pada garis hidup yg telah ditentukan qada n qadar dari Tuhan, dimana sgl waktu telah habis tergadaikan hanya demi dunia n kepuasan, otaknya setiap hari terkuras habis digunakan untuk mencari cara menguasai dunia lebih byk lagi, hatinya terlupakan, n jiwanya terabaikan.

Kecerdasan n wawasan ilmu pengetahuannya dianggap sebagai aset pribadinya mutlak, kesuksesannya dianggap berkah dri sgl upaya kerja keras dan pemikirannya yg luas, merasa telah mampu menundukan dunia dgn isi kepalanya, merasa benar telah berhasil mendapatkan rejeki yg ia dpt dari hasil keringatnya sendiri.

Tetapi, ketika ia usai makan, sendirian, menjelang tidur, ia merasa kesepian n terasing, merasa hampa, resah, bahkan sedih tak terkira, ia pun kian galau krn tak menemukan alasannya.

Hingga ada rasa nyeri didasar hatinya yg tak didasari menggerakan bibirnya berkata lirih, "Ya Allah ya Tuhanku"
lalu..,
merunduk wajahnya, hingga dagu jatuh menyentuh dadanya, dirabanya dada itu dgn kedua tangannya, matanya terpejam, perlahan meneteskan bulir2 air mata yg kian deras berjatuhan, tiada lagi yg terucap, kerongkongannya seakan sakit tercekat isak, habis sudah waktunya ia lewati dlm kepedihan yg tak ia mengerti, hingga lelah ia terkulai dlm tidur hingga pagi, tanpa jawab atau pun mimpi.

Itulah kehampaan jiwa yg menyuarakan kejujuran, kerinduan kepada Tuhan yg tak disadari sang insan, terhijab sgl tuntutan dan pikiran yg dibuatnya dlm kesengajaan. Pada akhirnya, ketersesatan dan kekeliruannya membawanya kpd rasa ketiadaan.
Merasa hampa dlm limpahan harta, merasa sendiri ditengah pengakuan dan penghargaan diri, merasa sakit dlm kesenangan duniawi, merasa asing dlm kelekatannya terhadap ambisi, merasa tak berdaya dipuncak kejayaan dunia yg dicapainya.

Tiada gelisah kecuali pasrah, tiada serakah selain berserah.
Tiada nikmat selain syukur, tiada puas selain bebas, tiada merdeka selain apa adanya.
Syukuri apa yg ada, bawalah slrh nafsu, ego, pikiran, dan keinginan berserah kpdNYA, menjadi ma'mum dalam Shalat jiwa raga kita yg sesungguhnya.
Dunia bukan sandaran, kecuali hakikat diri sejati dan Tuhan.

(€)

Dalam ketiadaan, cukup itu ada, dalam ketiadaan kaya itu hakikatnya.
selain "DIRI" Hakiki, maka siapapun, tidak ada yang mampu menjamin ketenangan dan kebahagiaan hidup seseorang, kecuali hijab dari kemelekatan...

Pun selain keSEJATIAN, maka tidak ada hal apapun yang layak diraih dan diperjuangkan dalam hakikat kehidupan, kecuali perjalanan sia2 tanpa arah tujuan...
 
(€)
tidak ada yang harus dihindari, tidak perlu juga menginginkan apapun 
tidak perlu berencana atau berangan angan
karena tidak perlu juga mengandalkan pikiran
tidak perlu kemana2, tidak harus menjadi apa2
tidak usah bingung harus bagaimana karena hakikatnya bukan apa2, tidak ada apa2, dan bukan siapa2
tidak juga perlu byk bertanya, jika tidak mengerti, memang itu seharusnya
menjadi tahu dan pintar itu mudah
menjadi sukses n berhasil itu wajar
tetapi menjadi bodoh dan tidak menjadi apapun adalah sangat sulit, 
dan hanya manusia yang mengenal sejati dirinya yang mampu mengatasi kesulitan itu sendiri..

(E)
apa yang dipahami dunia pikiran adalah batas, 
sedangkan perjalanan spiritual adalah "rasa" yang tak terbatas dan tak terdefinisi realitas
amal dan akhlak hanya proyeksi kedalaman yang teraktualisasi luwes, bijak dan spontanitas
sementara ilmu pengetahuan dan ritual, tidak menjawab akan kualitas.

(e)

perhatikan dengan seksama setiap saat, mana yang dominan aktif bersuara dan bekerja, pikiran atau hati..?
kenali dan jangan abaikan nurani, fokus pada dunia diri yang tak terlihat orang lain, bukan kepada dunia luar dan orang2 yang tidak akan mengerti n tidak akan pernah peduli akan "diri" kita
dunia kedalaman "diri" adalah dunia kedamaian dan ketentraman rasa yang sesungguhnya, dimana yang ada hanya hubungan mesra sang hati bersama Sang Maha Kuasa, sementara dunia luar diri, tak lebih dari ilusi dan fatamorgana, dimana pikiran dan ego kerap dituntut menjadi lakon utama daripada kesadaran kita, tak heran jika yang didapati adalah ambisi, cemas, galau, kecewa, sakit, iri, bhkan putus asa, maka hidup hanya berorientasi mengejar kepuasan, kesenangan n kebahagiaan yg masih diartikan dalam makna kulit (kesemuan)
kemudian kesadaran dicari belakangan, dengan penuh harapan akan pertolongan Tuhan
tapi setidaknya, penyesalan pun berkah Tuhan, semoga itu menjadi pintu kesadaran terhadap hakikat hidup yg sebenar, sungguh betapa bijaknya Kasih Sayang Tuhan..

(E)

riak n gelombang tak kan pernah lepas dari lautan,
angin badai senantiasa menerpa samudera n pantai, 
namun dalam dan dasarnya lautan n samudera tak pernah tersentuh amuknya,
kecuali tenang, hening, dan bening sejuk nan indah pada nyatanya...

"jangan biarkan pikiran keruh masuk n mempengaruhi "hati", tetaplah menerima apapun yg terjadi dgn tetap teguh n mawas dlm kesadaran diri"

~kulit selalu lekat dengan isi, namun kulit bukan esensi~

(€)